Membedah Nilai Kata Persaudaraan SH Terate, Bersama Kangmas Brigjen TNI (Purn) Widjang Pranjoto

Foto : Kangmas Brigjen TNI (Purn) Widjang Pranjoto, Ketua II Bidang Teknik dan Prestasi, SH Terate Pusat, Sabtu (29/8/2026). 

MADIUN I shterate.or.id – ​Persaudaraan adalah satu kata yang oleh pendiri-pendiri Persaudaraan Setia Hati Terate dipilih untuk dijadikan sesuatu hal yang sangat mulia, di mana bertujuan untuk bisa menyatukan orang di luar dirinya dari berbagai macam perbedaan, kemudian dianggap menjadi saudara seperti saudara kandung.

Melalui suatu proses pendidikan, latihan, pengalaman, pemberian ilmu pengetahuan, pemberian contoh, pemberian teladan dari seorang kakak kepada adiknya. Akhir-akhir ini, rasa persaudaraan sepertinya tinggal menjadi slogan.

Terutama berkaitan dengan adanya dua pihak yang bertentangan, yang sama-sama merasa sebagai pemegang amanah penerus, pembina, penyambung kata persaudaraan. Namun dalam praktiknya berbeda, berseberangan, bermusuhan, berbeda pemikiran, berbeda kebenaran sesuai dengan visi, sesuai dengan pemaknaan masing-masing.

Didalam mukadimah yang sudah boleh dikatakan disepakati bersama menjadi sesuatu alinea-alinea yang memiliki nilai-nilai filosofis dalam kehidupan bermasyarakat, warga SH Terate meyakini akan kebenaran makna untaian kalimat yang ada di mukadimah.

Mulai dari alinea pertama bahwa sesungguhnya hakikat hidup itu berkembang menurut kodrat iramanya masing-masing. Tetapi setelah berkembang masing-masing, kita tidak menerima iramanya masing-masing. Pengingkaran dari mukadimah ini berdampak sangat luas kepada perguruan pencak silat atau organisasi Setia Hati Terate.

Sangat disayangkan, namun demikian hal itu sudah terjadi. Mari saudara-saudaraku, kita di era sekarang yang sudah hidup di usia 104 tahun organisasi ini berdiri, kembali memaknai rasa persaudaraan atau kata persaudaraan pada perspektif hidup yang kita hadapi sekarang.

Hal ini penting karena sekarang di era digital, di mana setiap orang boleh mengemukakan pendapatnya di muka umum melalui situs-situs, melalui grup-grup, bahkan melalui akun-akun pribadi, maka banyak sekali kata persaudaraan ini mencederai.

Kenapa begitu? Karena rasa persaudaraan menurut saya adalah pondasinya keimanan terhadap satu kebenaran bahwa orang lain yang sudah melalui proses latihan, kemudian melalui prosesi pengesahan sesuai dengan adat, tradisi, aturan, maka seseorang itu kita anggap sebagai saudara.

Namun kenyataannya, apa yang terucap melalui tulisan-tulisan tadi di media sosial, maka orang lain itu sepertinya sudah bukan saudara. Karena saling menghujat, saling menyampaikan hal-hal yang sifatnya terdengar, terbaca itu keluar dari makna kata persaudaraan.

Semoga ini menjadi introspeksi kita masing-masing, agar kita bisa kembali kepada makna kata persaudaraan itu dulu dicetuskan oleh para sesepuh, para leluhur, para pendiri Persaudaraan Setia Hati Terate yang sudah mendahului kita semuanya.

Harapan beliaunya tentunya masih juga seperti harapan kita sekarang, menganggap orang yang bukan saudara sekandung tapi bisa menjadi orang seperti saudara sekandung. Di mana dengan ajaran bisa menjadi suri teladan, bisa saling asih, saling asah, saling asuh, tidak saling mencaci, tidak saling membully, tidak saling menyalahkan, tidak pengin mencari menang sendiri.

​Pondasi yang sudah diletakkan kata persaudaraan itu sepertinya melahirkan konflik karena istilahnya perebutan wadahnya. Seperti di dalam alinea terakhir: “Sekedar syarat bentuk lahir disusunlah organisasi”.

Sehingga awal dari perselisihan di tubuh Setia Hati Terate ini berawal dari bedanya pemahaman tentang lahir-lahiriah berupa organisasi yang merupakan wadah, namun merasa isinya tetap sama. Ketika wadahnya terpisah, isinya menjadi rebutan. Semoga ini menyadarkan kita kembali.

Mari kita bisa memaknai kata persaudaraan kembali kepada apa yang sudah menjadi cita-cita para pendahulu, para pencetus, para pendiri Persaudaraan Setia Hati Terate. Penilaian sekarang barangkali kata persaudaraan itu dihadapkan dengan dua kubu sudah tidak relevan. Karena pada kenyataannya bukan saudara, tapi adalah berlawanan.

Saya tidak paham awalnya seperti apa. Namun kembali lagi bahwa manusia yang terdiri dari jiwa dan raga ini itu memiliki akal pikiran, memiliki nafsu, memiliki kehendak, tapi juga sebenarnya memiliki sang mutiara, atau roh, atau cahaya Ilahi, atau Nur Muhammad, atau Roh Kudus. Di mana itu yang menggerakkan hati nurani agar selalu sesuai dengan percikan Ilahi yang ada di dalam diri manusia, atau diri warga Setia Hati Terate.

​Ketika setiap hari selalu disuguhkan dengan komentar, postingan yang bernadakan berlawanan, maka sebenarnya pondasi persaudaraan itu sudah runtuh. Karena apa? Pondasi itu adalah ikatan jiwa. Persaudaraan itu adalah batin yang berbicara.

Sedangkan kata-kata permusuhan, kata-kata menghujat, kata-kata perbedaan, kata-kata yang mencari pembenaran dari akal pikiran atas egonya masing-masing, itulah yang menyebabkan putusnya rasa persaudaraan.

Sehingga kita semuanya sekarang berdosa karena sudah keluar dari apa yang dulu diinginkan oleh para pendiri Persaudaraan Setia Hati Terate. Tentu saja semuanya menganggap dirinya benar, tapi dari perspektif masing-masing. Siapa yang memulai? Monggo kita berintrospeksi diri.

Kalau ingin mengadakan satu kegiatan yang berpotensi tidak menambah raketnya rasa persaudaraan, maka perlu menjadi pemikiran apakah akan dilanjutkan atau tidak. Karena pondasinya yang harusnya diperbaiki dahulu sebelum atapnya dibangun kembali. Harusnya dibetulkan dulu isinya, baru wadahnya dipakai untuk menampung isinya yang sudah dibetulkan.

Kenapa tercederai rasa persaudaraan?.

Rasa persaudaraan itu adalah ikatan yang tumbuh dari batin, maka yang berbicara adalah jiwanya. Seseorang yang memiliki perbedaan pandangan dalam wadah persaudaraan, ini seharusnya tidak boleh disampaikan dalam bentuk apa pun yang sifatnya hukuman, laporan, tuntutan.

Karena kata-kata hukuman, kata-kata tuntutan, kata-kata laporan kepada di luar saudara, berarti sudah tidak percaya lagi kepada saudara. Karena sudah minta kepada pihak ketiga untuk menjadi penengah, untuk menjadi pengambil keputusan, untuk mengatasi perselisihan. Karena begitu ada rasa perselisihan, siapa yang memulai itulah yang memutuskan tali persaudaraan.

Mari kita lihat dari awalnya. Kalau kita tarik mulai tahun 2014, sejak almarhum Kangmas Tarmadji Budi Harsono memimpin, kita bisa melihat siapa yang memulai dengan kata-kata protes? Siapa yang sudah menghujat? Maka orang itu harus berani memulai untuk minta maaf. Harus mulai kembali kepada makna kata persaudaraan. Apa pun perbedaannya, tidak boleh menyampaikan dengan ungkapan yang menodai kata persaudaraan.

Tidak boleh memecah bingkai kata persaudaraan. Sekali terucap, sekali bertindak yang menyimpang dari makna persaudaraan, orang itulah yang memulai memecah atau orang itulah yang memutus tali rasa persaudaraan. Barang siapa yang memulai, maka dia jugalah yang harus menjalin kembali rasa persaudaraan.

Hal-hal terakhir ataupun kondisi terakhir dengan ramainya adanya kelompok yang akan melaksanakan satu kegiatan besar, Parapatan Luhur, itu adalah istilah saya membangun atap tapi tanpa membetulkan pondasi. Membangun wadah tetapi tanpa memperhatikan isi.

Saran saya, monggo para sesepuh, para orang yang berseteru yang merasa menjadi pejabat-pejabat penentu, itu memperbaiki pondasi persaudaraannya dulu. Bentuknya apa, terserah. Tapi kalau itu tidak diperbaiki, maka pilihannya akan menjadi ada dua: terus berlanjut saling mencari kebenaran sendiri, atau pisah sesuai dengan apa yang dikuasai masing-masing, apa yang menjadi memiliki pengaruh masing-masing.

Sebagai pelengkap atau kesimpulan, kata persaudaraan yang diikuti dengan kata-kata berikutnya. Dan di lambangkan dengan bunga Terate, ini melambangkan tujuan keluhuran dari pendiri-pendiri Persaudaraan Setia Hati Terate agar generasi penerus nantinya diharapkan bisa menjadi saudara antara satu dengan lainnya. ​Saudara yang setia hingga ke dalam hatinya, setia hatinya. Dan dilambangkan dengan bunga terate, yang di dalam banyak ajaran agama menjadi satu.

Artinya, bisa menghadapi, Setia hati, hati yang setia di dalam menghadapi segala situasi kehidupan. Baik dalam kondisi yang enak, kemudian yang normal, dan kondisi yang tidak normal. Dan sekarang kita semuanya sedang diuji dalam kondisi yang sedang tidak normal. Karena persaudaraan, pada faktanya, ada yang beberapa dalam konteks besar organisasi menjadi bukan persaudaraan, tetapi permusuhan.

​Sedangkan ‘Setia Hati’ ini sepertinya dalam kondisi faktual sekarang kita sedang tidak setia hati, tapi sedang sakit hati. Dan ‘terate’ yang melambangkan kondisi apa pun itu tadi, ternyata kita tidak mampu hidup dalam pada kondisi yang sedang tidak baik-baik saja.

Katanya esterate bisa, terate bisa hidup di dalam lumpur yang kotor sekalipun, tetapi pada kenyataannya kita semuanya masih belum bisa hidup dalam persoalan-persoalan yang mungkin muncul kita sebagai manusia akibat dari kondisi situasi keberagaman.

​Sehingga keberagaman yang banyak, yang oleh para pendiri Setia Hati Terate diharapkan bisa menjadi saudara, ternyata kondisi faktual sekarang ada kondisi, walaupun tidak semuanya, tetapi ada kondisi di mana ada dua pendapat, dua pemahaman yang bertolak belakang. Sehingga kita semuanya tidak bisa hidup dalam kondisi yang berlumpur itu tadi. ​

Sehingga sepertinya kita bukan menjadi bunga terate, tapi hanya mampu menjadi bunga senthe yang bisa hidup seperti talas hutan, tetapi di tempat yang kering kita tidak bisa hidup, di tempat yang panas kita tidak bisa hidup. Dan sifatnya hanya membuat gatal orang lain.

Daun sente kan kalau kena kulit kadang-kadang bisa menjadi gatal. Semoga PSHT yang kita cintai bersama ini ke depan tidak menjadi Permusuhan Sakit Hati Sente, tapi tetap menjadi Persaudaraan Setia Hati Terate seutuhnya. Nara Sumber: (Brigjen TNI (Purn) Widjang Pranjoto).

Penulis : KRA. Sastronagoro.