Foto : Kangmas Brigjen TNI (Purn) Widjang Pranjoto Saat Bulan Suro dan Malam Pengesahan, Sabtu (27/6/2026).
MADIUN I shterate.or.id – Bulan Suro selalu menghadirkan suasana yang berbeda bagi keluarga besar Persaudaraan Setia Hati Terate. Pada bulan inilah ribuan siswa dari berbagai cabang akan menjalani malam pengesahan, sebuah prosesi sakral yang menandai perubahan status dari seorang siswa menjadi warga SH Terate.
Namun demikian, menurut Kangmas Brigjen TNI (Purn) Widjang Pranjoto, masih terdapat calon warga yang belum sepenuhnya memahami makna dan tujuan pengesahan. Banyak yang telah mempersiapkan kebutuhan lahiriah, tetapi belum memahami apa yang sesungguhnya harus dipersiapkan dalam sisi batin dan spiritual.
Pengesahan bukanlah sekadar wisuda atau acara seremonial organisasi. Pengesahan adalah momentum perubahan diri. Seorang siswa yang selama bertahun-tahun belajar pencak silat, ajaran budi luhur, dan persaudaraan, pada malam pengesahan dituntut untuk memasuki tahapan kedewasaan yang baru. “Kita tidak hanya mempersiapkan fisik, tetapi juga mempersiapkan jiwa. Bahkan yang lebih dominan sesungguhnya adalah kesiapan batin,” ungkapnya, Sabtu (27/6/2026).
Dalam pandangannya, persiapan lahir diwujudkan melalui berbagai perlengkapan atau ubarampe yang telah diwariskan oleh para sesepuh. Jago, pisang raja, tumpeng, suruh, air, dan berbagai perlengkapan lainnya bukan sekadar tradisi, melainkan simbol-simbol yang mengandung pendidikan spiritual.
Prosesi sakral yang dijalani calon warga sesungguhnya merupakan sarana untuk membersihkan hati, menjernihkan pikiran, dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Melalui doa-doa yang dipimpin dewan pengesah, seorang calon warga diajak untuk membuka hati dan memasuki perjalanan batinnya sendiri.
Menurut Kangmas Widjang, banyak calon warga yang belum mendapatkan pemahaman mendalam mengenai makna prosesi tersebut. Padahal, malam pengesahan merupakan kesempatan yang hanya datang sekali seumur hidup. “Malam pengesahan adalah malam istimewa. Hanya sekali dilakukan dalam kehidupan. Oleh karena itu harus dimanfaatkan untuk membersihkan jiwa dan membangun tekad menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa proses pengesahan sesungguhnya adalah perjalanan pribadi. Seorang calon warga tidak perlu memikirkan orang lain, tidak perlu berbicara dengan teman di sampingnya, melainkan fokus pada dirinya sendiri. Pada malam yang hening tersebut, hati harus dibuka, pikiran dijernihkan, dan jiwa diarahkan hanya kepada Tuhan. Dengan demikian, seorang calon warga mampu menemukan dirinya sendiri sebagaimana ajaran luhur yang tertuang dalam Mukadimah Persaudaraan Setia Hati Terate.
Beberapa cabang bahkan melaksanakan prosesi sungkem kepada orang tua, memohon maaf, hingga mencuci kaki ibu. Menurut Kangmas Widjang, hal tersebut merupakan bagian dari pendidikan spiritual yang sangat penting. Restu orang tua menjadi jalan pembuka hati dan menjadi bagian dari upaya membersihkan jiwa sebelum memasuki malam pengesahan. Beliau menilai bahwa para sesepuh terdahulu telah menyusun prosesi pengesahan dengan sangat luar biasa. Berbagai aturan, adat, simbol, dan tata cara yang diwariskan sesungguhnya merupakan sarana pendidikan karakter untuk membentuk manusia berbudi luhur.
Pengesahan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal kehidupan baru. Pada malam itu seorang siswa diharapkan mampu meninggalkan sifat-sifat buruk, meninggalkan keangkuhan dan kekanak-kanakan, kemudian memasuki kehidupan baru dengan kesadaran yang lebih dewasa. Kesiapan spiritual, menurutnya, harus mencapai porsi yang lebih besar dibandingkan persiapan fisik. Bahkan sekitar 80 hingga 90 persen yang harus dipersiapkan adalah sisi batin dan spiritual, sedangkan sisanya adalah kesiapan lahiriah.
Apabila seorang calon warga mampu melewati malam pengesahan dengan hati yang bersih, pikiran yang jernih, dan jiwa yang terbuka, maka nilai-nilai kebaikan akan memancar dalam kehidupannya. “Ruh yang bersih akan membimbing hati, hati membimbing pikiran, dan pikiran membimbing perbuatan. Dari situlah lahir seorang pendekar yang lengkap lahir dan batin,” tutur Kangmas Widjang.
Pada akhirnya, seorang warga SH Terate diharapkan mampu menjadi pribadi yang memancarkan kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Melalui sikap, ucapan, dan pengabdiannya, seorang warga SH Terate akan membawa nama baik organisasi dan mengamalkan tujuan luhur Persaudaraan Setia Hati Terate.
Bulan Suro pun tidak lagi hanya dimaknai sebagai agenda pengesahan semata, melainkan momentum perenungan, pembersihan diri, dan kelahiran kembali jiwa seorang pendekar yang berbudi luhur.
- Redaksi : K.R.A. Anang Sastro.












