KRT Tjatur Njoto Hadinegoro, S.Sos, MM : “Kasih Sayang Tanpa Batas”

  • Bagikan

PROBOLINGGO I sehterate.or.id – Diceritakan oleh Kangmas KRT Tjatur Njoto Hadinegoro, S.Sos, MM, ada seorang anak kecil terpesona ketika melihat dan memperhatikan gerakan gerakan lembut dari sesuatu yang ada didalam kepompong.

Tak begitu lama kepompong mulai robek dan nampaklah seekor bayi kupu – kupu menyembul dari robekan dinding kepompong itu. Dengan susah payah si bayi kupu – kupu menggerakkan tubuh lemahnya, ingin lepas dari belitan benang – benang tipis yang membalut tubuhnya.

Muncul rasa kasihan dan ingin menolong dari si anak kecil. Dengan pelan dan hati – hati dibukanya belitan benang – benang halus itu. Terlepaslah si bayi kupu – kupu dari “Kesulitan” dan si anakpun tertawa puas.

Tapi apa yang terjadi..?, Kupu kupu kecil tidak mampu mengepakkan sayapnya. Dia hanya bergerak-gerak ditempatnya. Dan, Pada akhirnya si kupu – kupu tidak mampu terbang, dan Tergolek lemah tak ber “DAYA”. Memang sering sekali ada orang yang maksudnya bener, memberi kasih sayang, pertolongan, dan perlindungan, tetapi karena cara – caranya salah/keliru “Ora Pener”, justru pada akhirnya membawa celaka bagi orang yang ingin disayangi, ditolong, dan dilindungi.

Contoh kecil misalnya, kata Kangmas KRT Tjatur Njoto Hadinegoro, orang tua yang terlalu sayang kepada anaknya sehingga menjadi over protecting, semua kebutuhan anak selalu dipenuhi/dituruti secara berlebih dan anak-anak dilarang segala hal yang membuat orang tuanya khawatir, atau yang menurut orang tuanya tidak sesuai dengan seleranya.

Perlakuan tersebut ternyata membuat tumbuh kembang si anak menjadikannya tidak/kurang bisa mandiri dan cenderung penakut, sehingga tidak mampu bersaing dengan teman-temannya. Disatu sisi setiap anak memiliki keunikannya sendiri-sendiri sesuai dengan watak, bakat dan sifatnya, sehingga dibutuhkan kearifan ketika hendak memberikan asupan keperluan hidupnya.

Sebagaimana kupu kecil tadi, belitan – belitan benang halus yang membalut tubuhnya, memang nampak menyusahkan dan menyulitkan. Sebenarnyalah belitan benang – benang halus itu, justru “Sarana” yang canggih untuk melatih dan memberdayakan diri si bayi kupu – kupu tadi agar mampu tampil mandiri.
“Kasih sayang perlu ada batasnya, agar kasih sayang yang diterimanya tidak justru menjadi tabir penghalang dalam proses pengembangan diri, “kata Kangmas KRT Tjatur Njoto Hadinegoro, S.Sos, MM di dalam artikelnya. Salam Hati Sehat.., SH Terate Jaya..!!. (DN/ANG/HUM).

  • Bagikan
Don`t copy text!