Foto : PSHT Cabang Sragen – Pusat Madiun Terdepan Rawat Persatuan, Festival Pendekar Nusantara Jadi Panggung Persaudaraan di Sragen, Minggu (24/10/2026).
SRAGEN I shterate.co.id – Persatuan tidak cukup hanya diteriakkan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Semangat itulah yang mengemuka dalam Festival Pendekar Nusantara 2026 di Kabupaten Sragen, ketika 17 perguruan pencak silat berhimpun dalam satu panggung kebersamaan, seni budaya, dan komitmen menjaga kedamaian.

Digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen bersama Forum Komunikasi Pencak Silat Sragen (FKPSS) pada 23–25 Oktober 2026, festival ini bukan sekadar perayaan pencak silat. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk menegaskan bahwa perbedaan perguruan bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk merawat persaudaraan dan memperkokoh persatuan bangsa.
Di antara 17 perguruan yang terlibat, Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Sragen Pusat Madiun menegaskan komitmennya untuk terus menjadi bagian dari kekuatan pemersatu masyarakat melalui nilai persaudaraan, kedisiplinan, dan penghormatan terhadap sesama.
Ketua PSHT Cabang Sragen Pusat Madiun, Kangmas Sunanto, menyambut positif penyelenggaraan festival tersebut. Ia mengapresiasi langkah Pemkab Sragen yang memberikan ruang bagi seluruh perguruan untuk bertemu, menampilkan seni bela diri, sekaligus membangun komunikasi dalam suasana yang harmonis.

Menurut Kangmas Sunanto, pencak silat tidak semestinya hanya dipandang sebagai seni bela diri atau identitas organisasi. Di dalamnya terdapat nilai luhur yang mengajarkan pengendalian diri, penghormatan, tanggung jawab, serta kemampuan menjaga persaudaraan di tengah perbedaan.
“Kami berharap festival ini tidak berhenti di sini. Mudah-mudahan setiap tahun bisa diselenggarakan untuk memberi ruang bagi pesilat-pesilat di Kabupaten Sragen,” ujarnya, Minggu (24/10/2026).
Bagi PSHT, persaudaraan bukan sekadar slogan yang diucapkan dalam setiap pertemuan. Persaudaraan harus tercermin dalam sikap, perilaku, serta kemampuan menempatkan kepentingan bersama di atas ego kelompok.
Kehadiran PSHT dalam Festival Pendekar Nusantara menjadi bagian dari upaya membangun ruang perjumpaan yang sehat antarpesilat. Sebab, kekuatan pencak silat tidak hanya diukur dari kemampuan menguasai jurus, tetapi juga dari kedewasaan para anggotanya dalam menjaga kehormatan diri, organisasi, dan lingkungan masyarakat.
Di tengah keberagaman perguruan, semangat menang tanpa ngasorake atau meraih kemenangan tanpa merendahkan pihak lain menjadi nilai penting dalam membangun hubungan yang saling menghormati.
Pendekar sejati bukan mereka yang merasa paling kuat, melainkan mereka yang mampu mengendalikan diri, menghormati sesama, dan menjaga kedamaian.
Prinsip tersebut sejalan dengan cita-cita menjadikan pencak silat sebagai warisan budaya bangsa yang memperkuat karakter, bukan memelihara permusuhan.
PSHT Cabang Sragen Pusat Madiun memiliki tiga himpunan dan lebih dari 20 ranting di wilayah Kabupaten Sragen. Struktur organisasi tersebut menjadi bagian dari potensi besar pencak silat dalam membangun kegiatan sosial, kebudayaan, dan persatuan di tengah masyarakat.
Dalam Festival Pendekar Nusantara 2026, jumlah peserta karnaval dari berbagai perguruan diperkirakan mencapai sekitar 6.000 orang. Selain itu, sekitar 300 pesilat disiapkan untuk mengikuti peragaan jurus secara serentak yang diarahkan pada upaya pemecahan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Angka tersebut masih memerlukan konfirmasi panitia, sementara status pencapaian rekor harus mengacu pada verifikasi resmi.
Rangkaian kegiatan juga mencakup atraksi seni bela diri, pameran UMKM, serta agenda deklarasi damai. Kehadiran pelaku UMKM memberikan nilai tambah karena festival tidak hanya menjadi ruang ekspresi budaya, tetapi juga membuka peluang promosi produk lokal dan atribut pencak silat.
Besarnya jumlah peserta menuntut koordinasi dan kedewasaan semua pihak. Panitia berkoordinasi dengan kepolisian serta unsur terkait untuk mendukung keamanan kegiatan. Setiap perguruan juga menyiapkan petugas pengamanan internal atau Pamter guna membantu menjaga ketertiban dan kelancaran acara.
Langkah tersebut menegaskan bahwa menjaga nama baik perguruan bukan hanya tanggung jawab pengurus, melainkan seluruh anggota yang terlibat dalam kegiatan.
Festival ini sekaligus menjadi ujian bagi semua perguruan: sejauh mana nilai persaudaraan benar-benar diwujudkan dalam perilaku nyata, terutama ketika bertemu dengan kelompok yang memiliki identitas dan tradisi berbeda.
Sebab, persatuan tidak lahir dari keseragaman. Persatuan tumbuh ketika perbedaan mampu dikelola dengan saling menghormati, komunikasi yang terbuka, dan komitmen bersama menjaga keamanan.
Festival Pendekar Nusantara 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. Kegiatan ini perlu menjadi fondasi bagi komunikasi yang berkelanjutan ant perguruan, sehingga potensi besar pencak silat dapat diarahkan untuk kegiatan positif, pelestarian budaya, pembinaan generasi muda, dan pengabdian kepada masyarakat.
Bagi PSHT Pusat Madiun, semangat persaudaraan harus terus hidup melampaui batas organisasi. Loyalitas terhadap perguruan tidak boleh menjadi penghalang untuk menghormati perguruan lain. Sebaliknya, identitas yang kuat harus berjalan beriringan dengan sikap terbuka, rendah hati, dan tanggung jawab kebangsaan.
PSHT harus terus hadir sebagai bagian dari solusi, perekat persaudaraan, dan kekuatan sosial yang ikut menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Dari Sragen, pesan yang ingin ditegaskan sederhana tetapi mendasar: pendekar boleh berbeda perguruan, berbeda lambang, dan berbeda tradisi, tetapi tetap berdiri di atas tanah air yang sama.
Karena pada akhirnya, kebesaran sebuah perguruan tidak hanya terlihat dari banyaknya anggota atau megahnya atraksi yang ditampilkan. Kebesaran itu diuji melalui kontribusinya dalam menjaga persaudaraan, menebarkan kedamaian, serta memperkuat persatuan bangsa.
- Reporter : Timsus-Joko.
- Editor : KRA. Anang Sastro.












