Foto : Menghormati Sesepuh, Menjaga Marwah Ajaran: Fondasi Keutuhan Persaudaraan SH Terate, Jumat(16/10/2026).
BLITAR I shterate.or.id – Menghormati sesepuh dan menjaga marwah ajaran merupakan dua prinsip penting dalam menjaga keluhuran nilai-nilai Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Keduanya bukan sekadar tradisi organisasi, melainkan wujud nyata pengamalan budi luhur yang menjadi fondasi kehidupan warga SH Terate.
Hal tersebut menjadi salah satu pesan yang mengemuka dalam kunjungan silaturahmi KRA. Anang Sastro, Kreator Media Pusat SH Terate Madiun, kepada Kangmas Ibnu Sudibyo, Ketua PSHT Cabang Blitar. Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan sekaligus merefleksikan pentingnya menjaga nilai-nilai luhur ajaran SH Terate di tengah dinamika organisasi dan perkembangan zaman.
Dalam kehidupan SH Terate, sesepuh memiliki kedudukan penting sebagai sumber keteladanan, pewaris pengalaman, serta penjaga sejarah perjalanan organisasi. Menghormati sesepuh berarti menghargai proses panjang perjuangan dan pengabdian yang telah membentuk SH Terate hingga dikenal luas oleh masyarakat.
Namun, penghormatan tersebut tidak cukup diwujudkan melalui sikap santun atau penghormatan secara seremonial. Lebih dari itu, penghormatan kepada sesepuh harus tercermin dalam kesediaan mendengarkan nasihat, mempelajari sejarah, menjaga tata krama, serta meneruskan nilai-nilai positif kepada generasi penerus.
Di sisi lain, menjaga marwah ajaran berarti memastikan bahwa SH Terate tetap menjadi wadah pembentukan manusia berbudi luhur, memahami benar dan salah, serta mampu menempatkan diri secara bijaksana dalam kehidupan bermasyarakat.
Nilai persaudaraan tidak seharusnya berhenti pada ikatan sesama warga. Persaudaraan harus diwujudkan melalui perilaku yang membawa manfaat, menjaga kerukunan, menghormati perbedaan, dan menghindari tindakan yang dapat merugikan orang lain maupun mencederai nama baik organisasi.
Semangat Memayu Hayuning Bawana juga menjadi pengingat bahwa keberadaan warga SH Terate semestinya memberikan kontribusi positif bagi lingkungan. Kekuatan seorang warga tidak hanya diukur dari kemampuan bela dirinya, tetapi juga dari kematangan sikap, kerendahan hati, pengendalian diri, dan kepeduliannya terhadap sesama.
Di era digital, tanggung jawab tersebut semakin besar. Setiap pernyataan, unggahan, dan tindakan warga dapat dengan mudah menjadi perhatian publik. Karena itu, menjaga marwah SH Terate juga berarti menggunakan media secara bijaksana, menyampaikan informasi secara bertanggung jawab, serta mengedepankan persaudaraan dalam menghadapi perbedaan pandangan.
Menghormati sesepuh bukan berarti berhenti berpikir kritis, sebagaimana menjaga marwah ajaran bukan sekadar mempertahankan simbol dan kebesaran nama organisasi. Keduanya harus diwujudkan melalui sikap yang dewasa, berlandaskan adab, menjunjung nilai kebenaran, dan mengutamakan penyelesaian persoalan secara bijaksana.
Silaturahmi KRA. Anang Sastro dengan Kangmas Ibnu Sudibyo menjadi pengingat bahwa kekuatan SH Terate tidak semata-mata terletak pada besarnya jumlah warga atau luasnya jaringan organisasi, tetapi juga pada kemampuan seluruh generasi untuk merawat nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.
Pada akhirnya, menjaga keutuhan persaudaraan merupakan tanggung jawab bersama. Sesepuh dihormati, ajaran dipahami, perbedaan disikapi dengan kedewasaan, dan nama baik organisasi dijaga melalui tindakan nyata.
Sebab, menghormati sesepuh adalah bagian dari menjaga akar sejarah, sedangkan menjaga marwah ajaran merupakan ikhtiar memastikan nilai-nilai luhur SH Terate tetap hidup dan bermanfaat bagi generasi mendatang.
“Saya dilahirkan di Blitar, dan disahkan menjadi bagian dari warga SH Terate juga di Blitar. Karena itu, menghormati para sesepuh bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban moral bagi kita sebagai warga yang mewarisi nilai-nilai luhur persaudaraan.
Saya sendiri memiliki ikatan sejarah dan emosional dengan SH Terate di Blitar. Saya pernah berlatih di Rayon Karangsono, Ranting Kanigoro, selama dua tahun. Dari proses itulah saya memahami bahwa SH Terate bukan sekadar tempat belajar pencak silat, tetapi juga tempat menempa karakter, adab, dan tanggung jawab sebagai manusia.
Bagi saya, menjaga marwah SH Terate harus dimulai dengan menghormati para sesepuh, menghargai perjuangan para pendahulu, serta mengamalkan ajaran budi luhur dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai kita bangga menyandang nama besar SH Terate, tetapi justru melupakan nilai-nilai yang menjadi dasar berdirinya persaudaraan ini.
Perbedaan pandangan dalam organisasi merupakan hal yang wajar. Namun, jangan sampai perbedaan itu menghilangkan rasa hormat, memutus silaturahmi, atau membuat kita melupakan sejarah dan jasa para sesepuh.
“Kita boleh berbeda dalam pandangan, tetapi jangan kehilangan adab dan persaudaraan. Sebab, kebesaran SH Terate tidak hanya ditentukan oleh nama dan simbolnya, melainkan oleh sikap serta perilaku warganya dalam menjaga kehormatan dan marwa ajaran,”tandasnya.
- Reporter : Kominfo-Joko.












